TVRINews, Jambi
Penurunan harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit mulai dirasakan oleh para petani di Kabupaten Merangin. Di tengah meningkatnya harga pupuk dan biaya perawatan kebun, petani menilai harga sawit saat ini belum mampu menutup biaya produksi.
Aktivitas panen kelapa sawit masih berlangsung di sejumlah perkebunan milik warga. Namun di balik aktivitas tersebut, para petani mengaku menghadapi tekanan ekonomi akibat menurunnya harga jual TBS. Saat ini, petani menjual sawit ke pengepul dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram, sedangkan jika buah dijemput langsung dari kebun, harga yang diterima hanya berkisar Rp2.250 per kilogram.
Harga tersebut dinilai belum sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir, harga pupuk, obat-obatan pertanian, hingga upah pekerja mengalami kenaikan signifikan. Bahkan untuk satu karung pupuk NPK 16-16 seberat 50 kilogram, petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp880 ribu.
“Kami berharap harga sawit bisa kembali di angka Rp3.800 di pabrik, karena sekarang biaya pupuk, obat-obatan dan upah sudah mahal. Dengan harga saat ini, petani cukup berat untuk merawat kebun secara maksimal,” ujar salah satu petani di Kabupaten Merangin, Jumat, 5 Juni 2026.
Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi harga sawit saat ini. Dengan harga yang lebih stabil dan sesuai dengan biaya produksi, petani diharapkan dapat kembali melakukan pemupukan dan perawatan kebun secara optimal sehingga produktivitas sawit tetap terjaga.










