TVRINews, Jambi
Jumlah titik panas di Provinsi Jambi mengalami penurunan drastis setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Dari sebelumnya mencapai ratusan titik panas setiap hari, kini hanya terpantau sebanyak 14 titik dalam dua hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi mencatat penurunan jumlah titik panas tersebut terjadi seiring meningkatnya curah hujan di sejumlah daerah, terutama wilayah yang sebelumnya rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membantu meningkatkan kelembapan lahan yang sebelumnya mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Kondisi tersebut turut mengurangi potensi munculnya titik panas baru di sejumlah kawasan rawan kebakaran.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Provinsi Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengatakan bahwa penurunan jumlah titik panas berkaitan dengan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah. Berdasarkan hasil pemantauan, titik panas yang masih terdeteksi tersebar di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Tebo.

"Kita melihat adanya hujan ini membuat hotspot berkurang dari beberapa hari terakhir," ujar Jaya Martua pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Menurut Jaya, meskipun jumlah titik panas mengalami penurunan, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan. Hal ini karena masih terdapat sejumlah wilayah di Provinsi Jambi yang diperkirakan mengalami beberapa hari tanpa hujan.
Kondisi cuaca yang belum sepenuhnya merata tersebut membuat potensi kemunculan titik panas masih perlu diantisipasi, terutama di kawasan lahan yang mudah terbakar. Oleh karena itu, pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan sebaran titik panas tetap diperlukan.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Aktivitas pembakaran berpotensi memicu munculnya titik api baru, terutama apabila kondisi lahan kembali mengering akibat berkurangnya curah hujan.
Penurunan jumlah titik panas diharapkan dapat membantu mengurangi risiko karhutla sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan yang sebelumnya terdampak kabut asap. Namun, kewaspadaan dan langkah pencegahan tetap diperlukan untuk memastikan kebakaran tidak kembali terjadi.










