TVRINews, Jambi
Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Muaro Jambi dalam beberapa waktu terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap lahan persawahan tadah hujan yang mengalami kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut membuat petani di Desa Rengas Bandung, Kecamatan Jambi Luar Kota, masih menghadapi ancaman gagal panen.
Kekeringan yang berlangsung selama tiga bulan terakhir menyebabkan sebagian besar areal persawahan di desa tersebut mengering. Permukaan tanah terlihat retak-retak akibat minimnya pasokan air, sementara tanaman padi yang telah berusia sekitar tiga bulan mengalami kerusakan.
Meskipun hujan mulai turun, intensitasnya dinilai belum cukup untuk membasahi lapisan tanah yang mengalami kekeringan berkepanjangan. Akibatnya, sebagian besar tanaman padi tidak dapat diselamatkan dan mengalami puso atau gagal panen.
Salah seorang petani Desa Rengas Bandung, Mahmud, mengatakan bahwa kondisi lahan pertanian saat ini masih memprihatinkan. Curah hujan yang belum kembali normal membuat tanah tetap kering sehingga menyulitkan pemulihan tanaman padi.
“Walaupun sudah turun hujan, kondisinya belum cukup untuk membasahi tanah yang sudah mengalami kekeringan selama tiga bulan. Tanaman padi banyak yang sudah rusak dan tidak bisa diselamatkan,” ungkap Mahmud, petani Desa Rengas Bandung, dikutip Sabtu,, 31 Oktober 2026.
Mahmud menjelaskan, dari total luas lahan persawahan sekitar 62 hektare, sebanyak 45 hektare dilaporkan mengalami puso akibat kekeringan. Sementara itu, sekitar 17 hektare lahan lainnya masih memiliki tanaman padi yang berwarna hijau dan berpotensi diselamatkan apabila curah hujan meningkat.
“Dari 62 hektare sawah, sekitar 45 hektare sudah mengalami gagal panen. Sekarang tinggal 17 hektare yang masih hijau. Kami berharap hujan turun lebih deras supaya tanaman yang tersisa masih bisa diselamatkan,” ujar Mahmud.
Para petani berharap intensitas hujan dalam beberapa waktu ke depan terus meningkat sehingga kebutuhan air pada lahan persawahan dapat kembali terpenuhi. Pasokan air yang cukup dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan tanaman padi yang masih bertahan.
Meski mengalami kerugian akibat gagal panen pada musim tanam kali ini, para petani mengaku tidak ingin menyerah. Mereka tetap berupaya mempersiapkan musim tanam berikutnya agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan.
Sebagai langkah awal, kelompok tani setempat merencanakan penyebaran bibit atau anakan padi baru pada awal November 2026. Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi upaya pemulihan kegiatan pertanian setelah terdampak kekeringan berkepanjangan.
Petani berharap kondisi cuaca semakin membaik dan curah hujan kembali normal agar proses penanaman berikutnya dapat berlangsung optimal serta mengurangi risiko gagal panen yang kembali terjadi.









