TVRINews, Jambi
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Muaro Jambi mulai memberikan dampak terhadap sektor perikanan budidaya. Menurunnya debit air di sejumlah sungai, embung, dan kolam menyebabkan ikan keramba milik para pembudidaya mengalami pertumbuhan yang lambat hingga banyak yang mati.
Kondisi tersebut membuat para petani ikan khawatir karena penurunan kualitas air meningkatkan risiko kematian ikan dan berdampak langsung pada produktivitas budidaya ikan air tawar.
Salah seorang pembudidaya ikan keramba di Kabupaten Muaro Jambi, Kadir, mengatakan musim kemarau membuat masa panen menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal.
"Ikan yang biasanya dapat dipanen dalam waktu empat hingga lima bulan, kini harus menunggu hingga tujuh sampai delapan bulan baru bisa dipanen," ujar Kadir.
Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ikan disertai tingginya angka kematian menyebabkan kerugian finansial yang cukup besar bagi para pembudidaya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi, tinggi muka air Sungai Batanghari saat ini berada pada angka 13,87 meter. Angka tersebut turun sekitar 52 sentimeter dibandingkan kondisi normal sebelumnya yang mencapai 14,39 meter.
Penurunan debit air itu dikhawatirkan akan terus memengaruhi aktivitas budidaya perikanan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Para pembudidaya berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serta solusi untuk membantu menjaga keberlangsungan usaha perikanan di tengah kondisi kemarau, sehingga kerugian yang dialami petani tidak semakin besar.









