TVRINews, Jambi
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan oleh pelaku usaha pengangkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Merangin, Jambi. Meningkatnya harga BBM menyebabkan biaya operasional angkutan ikut naik, terutama untuk kebutuhan bahan bakar dan perawatan kendaraan.
Sejumlah pelaku usaha mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengangkut hasil panen sawit dari kebun menuju pabrik pengolahan. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya margin keuntungan, khususnya bagi pengusaha yang melayani rute dengan jarak tempuh cukup jauh.
Salah seorang pelaku usaha mengatakan, meski harga Dexlite mengalami penurunan, biaya operasional secara keseluruhan masih relatif tinggi sehingga memaksa pengusaha melakukan penyesuaian tarif angkut.
“Meskipun harga Dexlite sudah turun, biaya operasional kami masih tinggi. Kami terpaksa menaikkan upah angkut dari Rp100 menjadi Rp150 per kilogram,” ujarnya.
Selain biaya bahan bakar, kenaikan harga BBM juga berpengaruh terhadap biaya perawatan kendaraan, termasuk harga suku cadang yang cenderung meningkat. Kondisi ini menambah beban operasional yang harus ditanggung pelaku usaha angkutan.
Pelaku usaha khawatir kenaikan biaya distribusi tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpengaruh terhadap harga TBS di tingkat petani. Mereka berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas biaya distribusi sehingga rantai pasok komoditas sawit tetap berjalan lancar.
Dengan stabilnya biaya distribusi, pelaku usaha menilai produktivitas sektor perkebunan sawit dapat terus terjaga tanpa memberikan beban tambahan bagi petani maupun pengusaha angkutan.










