TVRINews, Jambi
Kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi sejak awal pekan ini diklaim merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), khususnya yang berada di wilayah Sumatera Selatan.
Gubernur Jambi, Al Haris, mengatakan kabut asap yang dirasakan di Jambi saat ini tidak sepenuhnya berasal dari wilayah provinsi setempat, melainkan dipicu oleh kebakaran di kawasan TNBS yang hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
“Sebagian besar kabut asap yang masuk ke wilayah Jambi ini berasal dari kebakaran di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang di wilayah Sumatera Selatan,” ujar Al Haris, Gubernur Jambi, Kamis, 17 September 2026.
Ia menjelaskan, arah angin yang bertiup menuju wilayah Jambi menyebabkan sebaran asap dari lokasi kebakaran tersebut meluas dan berdampak pada penurunan kualitas udara di berbagai daerah.
Meski demikian, berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi, saat ini masih terdapat sejumlah titik api di wilayah Jambi yang tengah dalam proses penanganan.
Beberapa titik api tersebut berada di Kabupaten Batanghari tepatnya di kawasan Tahura, Kabupaten Tanjung Jabung Timur di wilayah Rantau Rasau, Kabupaten Tebo di wilayah Rimbo Ilir, serta di Kabupaten Muaro Jambi di wilayah Sungai Aur.
Selain itu, terdapat pula titik api baru di wilayah perbatasan Taman Nasional Berbak Sembilang yang merupakan lanjutan dari kebakaran yang berasal dari wilayah Sumatera Selatan.
Berdasarkan data Satgas Karhutla, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi hingga 15 September 2026 mencapai 2.998,02 hektare. Luasan terbesar tercatat berada di Kabupaten Batanghari dengan luas mencapai 773,25 hektare.
Pemerintah Provinsi Jambi terus melakukan berbagai upaya penanganan, baik melalui pemadaman darat maupun udara, guna mengendalikan penyebaran kebakaran serta mengurangi dampak kabut asap di wilayah tersebut.










