TVRINews, Jambi
Sejak Januari 2026, tercatat sebanyak 122 hektare hutan dan lahan di wilayah Provinsi Jambi terbakar. Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini masih difokuskan melalui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan luas lahan terbakar tersebut merupakan akumulasi kejadian hingga 7 Juni 2026 yang tersebar di sejumlah daerah rawan.

“Sejak Januari hingga 7 Juni 2026, tercatat sekitar 122 hektare hutan dan lahan di Provinsi Jambi telah terbakar dan tersebar di beberapa wilayah rawan karhutla,” ujar Bachyuni, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, operasi modifikasi cuaca menjadi langkah awal dalam upaya penanganan dan pengendalian karhutla, terutama untuk meningkatkan kelembapan lahan di tengah kondisi kemarau ekstrem.
“Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk memaksimalkan pembasahan lahan, terutama di tengah fenomena kemarau, sehingga dapat menekan potensi munculnya titik api,” tegasnya.
Tercatat, hingga saat ini operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sebanyak 20 kali di wilayah Provinsi Jambi, yang sebagian besar dilaksanakan oleh pihak swasta dan dilanjutkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca direncanakan berlangsung hingga 12 Juni 2026 dengan mempertimbangkan potensi awan yang dapat disemai.
Sementara itu, pasukan darat akan mulai diterjunkan ke pos-pos rawan kebakaran apabila operasi modifikasi cuaca dinilai tidak lagi efektif akibat minimnya potensi awan hujan.
Dalam menghadapi musim kemarau ekstrem tahun ini, Satgas Karhutla Provinsi Jambi juga telah menyiapkan sebanyak 81 pos siaga untuk penempatan personel di wilayah rawan kebakaran.










