TVRINews, Jambi
Tingginya harga bahan bakar minyak non-subsidi memicu antrean panjang kendaraan, baik milik pribadi, angkutan logistik, maupun transportasi umum, di sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatra (Jalinsum) dari Jambi menuju Riau. Para pengendara mengantre hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM jenis solar subsidi.
Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya dexlite, menjadi pemicu utama lonjakan antrean. Harga yang sebelumnya berkisar Rp14.200 per liter kini melonjak hingga sekitar Rp26.000 per liter. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar pengemudi beralih ke solar subsidi, seperti terlihat di SPBU kawasan Sengeti, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Antrean didominasi kendaraan roda empat, truk logistik antarprovinsi, serta bus angkutan umum.
Hasan, salah seorang sopir angkutan umum, mengaku tidak lagi sanggup membeli BBM non-subsidi.

(Foto: Sopir angkutan umum, Hasan)
“Saat ini kami tidak sanggup membeli BBM non-subsidi karena harganya sangat tinggi, jadi terpaksa mengantre solar meskipun harus menunggu lama,” ujarnya.
Para sopir berharap pasokan solar subsidi dapat terjamin dan ada pengawasan lebih ketat agar penyaluran BBM benar-benar tepat sasaran. Mereka menilai antrean yang semakin panjang berpotensi mengganggu aktivitas distribusi barang.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah SPBU lain sepanjang jalur Jambi–Pekanbaru. Antrean kendaraan kerap mengular hingga ke badan jalan, menimbulkan kemacetan di jalur nasional yang menjadi salah satu urat nadi transportasi Sumatra.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi persoalan BBM ini, agar tidak berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya logistik di wilayah setempat.










