TVRINews, Jambi
Kabupaten Sarolangun menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Provinsi Jambi. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Jambi terus memperkuat langkah pencegahan karhutla melalui berbagai upaya, salah satunya dengan operasi modifikasi cuaca yang telah berlangsung dalam dua pekan terakhir. Kegiatan tersebut difokuskan pada wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan tinggi, termasuk Kabupaten Sarolangun yang memiliki hamparan lahan gambut cukup luas.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sarolangun, Yen Aswadi, menyambut positif pelaksanaan operasi tersebut. Menurutnya, peningkatan curah hujan di wilayah rawan dapat membantu menjaga kelembapan lahan sehingga menekan potensi munculnya titik api.

(Foto: Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sarolangun, Yen Aswadi)
“Operasi modifikasi cuaca ini sangat membantu dalam menekan risiko karhutla, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut,” kata Yen Aswadi.
Selain mendukung pelaksanaan OMC, BPBD Sarolangun juga memperkuat langkah pencegahan melalui patroli terpadu dan patroli mandiri yang dilakukan secara rutin.
Selain itu, ia menuturkan jika sosialisasi kepada masyarakat terus digencarkan, khususnya terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar yang masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran.
Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama tahun ini, kewaspadaan terus ditingkatkan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu peningkatan jumlah titik panas di sejumlah wilayah rawan karhutla.
Sejak Mei 2026, patroli rutin telah dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan berbagai instansi. Kegiatan tersebut difokuskan pada pemantauan kawasan rawan kebakaran guna mendeteksi potensi ancaman sejak dini.
Dalam patroli lapangan, petugas melakukan pengawasan titik-titik rawan menggunakan sejumlah peralatan pemantauan, sekaligus memetakan kondisi wilayah yang berisiko tinggi. Tim juga mengecek kondisi vegetasi serta memastikan ketersediaan sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk penanganan cepat apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.










