TVRINews, Jambi
Memasuki musim kemarau tahun 2026, debit air di Sungai Batang Asai, Batang Limun, serta sejumlah anak sungai di wilayah Kabupaten Sarolangun mulai mengalami penyusutan secara bertahap. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan krisis air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarolangun mulai mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering akibat fenomena El Nino. Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan, sejumlah wilayah juga diwaspadai rawan mengalami krisis air bersih.
Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, yang dinilai rentan mengalami kekurangan air bersih akibat mulai mengeringnya Sungai Talisa sebagai sumber utama kebutuhan masyarakat.

(Foto: Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sarolangun, Solahudin Nopri)
“Kami telah berkoordinasi dengan PDAM Tirta Sako Betuah untuk menyiapkan pasokan air bersih yang akan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak, serta menyiapkan langkah mitigasi sejak dini guna memastikan kebutuhan air tetap terpenuhi,” ujar Solahudin Nopri, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sarolangun.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kekeringan diperkirakan mulai terjadi pada akhir Juni, seiring meningkatnya suhu udara dan minimnya curah hujan yang berdampak pada terus menurunnya debit air sungai.
BPBD Sarolangun juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Berbagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan terus diperkuat guna meminimalisir dampak musim kemarau yang berpotensi mengganggu lingkungan serta keselamatan masyarakat.










