TVRINews, Jambi
Lahan persawahan tadah hujan masih menjadi tantangan berat bagi petani di Kabupaten Muaro Jambi. Saat musim hujan, lahan pertanian kerap terendam banjir. Sementara pada musim kemarau, tanah mengering hingga retak. Kondisi ini berdampak pada penurunan produktivitas padi dan memaksa petani menunda masa tanam kedua hingga tahun depan.
Kondisi tersebut dialami petani di Desa Senaung, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Ketergantungan terhadap curah hujan membuat kegiatan pertanian sulit berjalan optimal, baik saat musim hujan maupun kemarau.

Akibatnya, hasil panen menurun drastis dan petani menghadapi risiko gagal panen. Salah seorang petani, Hamisah, memperkirakan hasil panen padinya kali ini merosot akibat kemarau berkepanjangan.
"Dari lahan seluas sepuluh tumbuk, biasanya mampu menghasilkan tiga hingga empat pikul gabah kotor. Namun, pada panen kali ini, hasilnya diperkirakan hanya sekitar satu pikul gabah kotor," ujarnya, dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Selain menyebabkan penurunan hasil panen, kekeringan juga membuat lahan sulit diolah untuk penanaman berikutnya. Petani pun terpaksa menunda masa tanam kedua hingga tahun depan karena keterbatasan pasokan air.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, petani berharap pemerintah dapat membantu pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif. Ketersediaan sumber air diharapkan dapat mendukung kegiatan pertanian meskipun curah hujan rendah.
Sejauh ini, petani setempat hanya mampu melakukan satu kali masa tanam dalam setahun akibat keterbatasan air dan faktor cuaca. Mereka berharap adanya solusi pengairan agar produktivitas pertanian dapat meningkat dan risiko kerugian akibat kekeringan dapat ditekan.










