TVRINews, Jambi
Kabut asap pekat yang menyelimuti perairan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, menghambat aktivitas nelayan tradisional. Meski jarak pandang terbatas hingga sekitar 400 meter, sejumlah nelayan tetap melaut demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Salah satunya Sulaiman, nelayan tradisional asal Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi. Di tengah kondisi perairan yang diselimuti kabut asap, ia tetap berupaya mencari udang nenek sebagai sumber penghasilan.
Kondisi tersebut membuat Sulaiman harus ekstra hati-hati saat berlayar. Dengan jarak pandang yang terbatas, ia mengurangi jangkauan pelayaran menjadi sekitar 15 hingga 25 mil laut untuk mencari lokasi penangkapan udang.
Kabut asap juga menyulitkan nelayan menentukan arah pelayaran, terutama mereka yang menggunakan perahu kecil tanpa perangkat navigasi modern.
"Untuk membantu menentukan arah, kami mengandalkan kompas sederhana saat berada di tengah perairan," ujarnya, dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Biasanya, Sulaiman berangkat melaut sejak dini hari dan baru kembali pada siang hari berikutnya. Namun, di tengah keterbatasan jarak pandang dan risiko keselamatan, hasil tangkapan yang diperolehnya rata-rata hanya sekitar 20 ekor udang nenek dalam sehari.
Padahal, harga udang nenek dapat mencapai Rp250 ribu per ekor, bergantung pada ukuran. Komoditas ini menjadi salah satu sumber penghasilan bagi nelayan setempat yang menggantungkan kehidupan dari hasil laut.
Kabut asap yang menyelimuti perairan tidak hanya membatasi aktivitas penangkapan, tetapi juga berpotensi memengaruhi jumlah hasil tangkapan harian. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan yang harus tetap berupaya memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah situasi yang kurang mendukung.
Selain menghambat aktivitas melaut, kabut asap juga disebut mengganggu penjualan udang nenek ke pasar ekspor. Hambatan tersebut menambah tantangan bagi aktivitas perikanan setempat, baik dalam proses penangkapan maupun pemasaran hasil laut.
Di tengah kondisi perairan yang berkabut, Sulaiman dan nelayan tradisional lainnya tetap berusaha bertahan dengan peralatan sederhana. Namun, keterbatasan jarak pandang membuat mereka harus mempertimbangkan keselamatan saat melaut demi mendapatkan penghasilan dari laut.










