TVRINews, Jambi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi di tengah masa peralihan musim, dengan potensi bencana seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kabupaten Muaro Jambi menjadi salah satu wilayah yang tergolong rawan bencana hidrometeorologi di Provinsi Jambi. Kondisi geografis yang dilalui aliran Sungai Batanghari serta adanya kawasan gambut menjadi faktor utama tingginya potensi bencana di daerah tersebut.
Berdasarkan data BPBD, wilayah rawan banjir tersebar di 72 desa yang berada di Kecamatan Sekernan, Maro Sebo, Taman Rajo, Jambi Luar Kota (Jaluko), Kumpeh, dan Kumpeh Ulu. Sementara itu, potensi angin kencang tercatat di 72 desa yang tersebar di 11 kecamatan.
Terdapat lima desa di lima kecamatan yang dinyatakan rawan potensi lontor, yakni Taman Rajo, Sekernan, Maro Sebo, Kumpeh, dan Kumpeh Ulu.

(Foto: BPBD Kabupaten Muaro Jambi telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana hidrometeorologi)
Kepala Pelaksana BPBD Muaro Jambi, Paruhuman Lubis, menyampaikan bahwa pihaknya juga telah memetakan wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.
“Terdapat 87 desa di tujuh kecamatan yang masuk kategori rawan karhutla, terutama di Kecamatan Kumpeh, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, Maro Sebo, Taman Rajo, Sekernan, dan Jaluko,” ujar Paruhuman Lubis, dikutip Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menambahkan, BPBD telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan pemerintah desa untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama masa peralihan musim.
“Pemetaan ini merupakan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana. Namun hingga saat ini, kami memastikan belum ada kejadian bencana di wilayah Muaro Jambi, baik banjir, longsor, karhutla maupun angin puting beliung,” tambahnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan proaktif dalam menjaga lingkungan guna meminimalisir risiko bencana.










