TVRINews, Jambi
Perbedaan jumlah data titik panas antara BPBD dan BMKG terjadi di wilayah Kabupaten Sarolangun dalam periode Januari hingga akhir April 2026. Perbedaan ini mendorong BPBD Sarolangun melayangkan surat klarifikasi guna memastikan akurasi data.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sarolangun, Solahudin Nopri, mengatakan pihaknya mencatat sebanyak 52 titik panas, sementara data BMKG menunjukkan angka lebih tinggi, yakni 72 titik panas.
“Perbedaan data ini masih kami dalami. Namun setiap laporan titik panas tetap kami tindak lanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan atau ground check untuk memastikan tingkat kepercayaannya,” ujar Solahudin Nopri.
Ia menjelaskan, metode pendeteksian yang digunakan kedua instansi memang berbeda. BPBD melakukan verifikasi langsung di lapangan, sedangkan BMKG memantau anomali suhu melalui citra satelit.
Menurutnya, kondisi tertentu seperti pantulan seng atau cerobong asap industri dapat terdeteksi sebagai titik panas oleh satelit, meski belum tentu mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, Solahudin menilai kedua data tersebut tetap saling melengkapi dalam mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia menambahkan, data titik panas itu menjadi peringatan dini memasuki fase awal musim kemarau 2026 sekaligus sinyal kewaspadaan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan langkah mitigasi, khususnya di wilayah desa rawan karhutla.
Pengawasan berjenjang juga diperketat, terutama di kawasan dengan vegetasi kering, guna mengantisipasi potensi munculnya titik panas seiring menurunnya curah hujan.
BPBD Sarolangun memastikan hingga beberapa hari terakhir belum ditemukan kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan.
Pihaknya juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.










