TVRINews, Jambi
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi berdampak pada aktivitas penyeberangan dan pendapatan nelayan di aliran Sungai Batanghari.
Berkurangnya aktivitas masyarakat yang menggunakan jasa transportasi penyeberangan menyebabkan jumlah penumpang menurun. Kondisi ini berdampak langsung pada penghasilan para sopir perahu atau ketek yang menggantungkan hidup dari jasa tersebut.
Salah seorang sopir perahu penyeberangan, Rudi, mengatakan kabut asap sangat memengaruhi aktivitas transportasi di sungai.
"Kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap penyeberangan. Penumpang jadi berkurang, otomatis pendapatan kami juga ikut turun," ujar Rudi, dikutip Kamis, 17 September 2026.
Hal serupa juga dirasakan oleh para nelayan yang beraktivitas di sungai. Kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak pada hasil tangkapan ikan.
Aan, salah seorang nelayan, mengaku kondisi kabut asap membuat aktivitas melaut menjadi terbatas dan hasil tangkapan menurun.
"Kabut asap membuat kami sulit mencari ikan, selain itu juga berbahaya karena jarak pandang terbatas," ucap Aan.
Para sopir perahu dan nelayan berharap pemerintah segera mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, sehingga kabut asap dapat segera berakhir dan aktivitas masyarakat kembali normal.










